Selasa, 30 Maret 2010

PENYEBAB ANAK MENJADI PENDERITA AUTISME - CACAT OTAK ( ADD, ADHD, ASPERGER, HYPERAKTIVE )

PENYEBAB ANAK MENJADI PENDERITA AUTISME ( ADD, ADHD, ASPERGER)

Suatu fenomena aneh terjadi saat ini, dimana banyak anak-anak jaman sekarang menderita autisme (add- attention defisit disorder, adhd-attention defisit hyperaktive disorder... bagaimana cara menanganinya dapat dibaca disini.
Saya lalu berusaha mencari penyebabnya, berdasarkan banyak informasi yang saya peroleh, baik dari media maupun orangtua penderita langsung, maka saya mencoba memberikan masukan tentang faktor penyebabnya, memang masih harus dibutuhkan penelitian dari para ahli lebih lanjut tentang sahih atau tidak sahihnya faktor penyebab ini.

Faktor-Faktor Penyebab Anak menjadi penderita Autisme ( ADD, ADHD, Asperger):

1.Tambalan gigi ibu hamil

KADAR TIMBAL TINGGI
Banyak dari anak penderita add/adhd memiliki kadar timbal yang lebih banyak dari anak-anak lain yang menyebabkan berubahnya susunan dan fungsi sel otak. Hal itu dipengaruhi karena kandungan timah/ logam yang ada dalam tambalan gigi si ibu, memang tidak semuanya tambalan gigi memakai unsur logam tapi hal itu perlu ditanyakan kepada dokter gigi yang bersangkutan.

2. Kandungan Nutrisi dalam SUSU - AHA, DAH, FOLAT dan unsur lain...
Memang sepertinya kita ingin bayi kita pintar dan sehat... tapi ada penelitian yang mengatakan bahwa kandungan ini malah memicu terjadinya perubahan sel dalam otak anak tersebut. Bukannya anak kita malah jadi tidak boleh minum susu, tapi diperhatikan dulu apakah memang ada kegunaannya susu-susu mahal itu.

3. Kandungan CO2 dalam udara
Bagi para ibu hamil dan menyusui disarankan untuk memakai masker atau setidaknya menutup hidung ketika memasuki kawasan berpolusi, di belakang angkot atau kalau ada motornya ary thok lewat.

4. PRODUK KOSMETIK PEMUTIH WAJAH DAN KULIT segala jenis

Maaf kepada pencinta kulit putih tapi pucat,dalam kosmetik mu pasti ada mercury nya walaupun itu kadarnya 0,00001 persen, jangan lansung percaya produk, lihat dan teliti.

5. KADAR STRESS Ibu yang mengandung
Hendaknya kadar stress dapat dijaga. Tugas besar para suami untuk SIAGA- Siap Antar Jaga...

6. Pola makan dan kebiasaan makan yang buruk
Bukan saya ingin mengajari, tapi bukankah menjadi ibu adalah dambaan setiap wanita? merasa beruntunglah dan bersyukur akan kehidupan baru itu...


7. Kesalahan Pola Asuh Anak
Ini bisa dilihat di metro tv tiap minggu apa ya... Nanny 911 ... lihatlah bagaimana kesalahan pola asuh orangtua
menjadikan anak menjadi liarr ( pinjam kata2 jf ) dan suka menentang ( pinjem kata-kata hai2) orang tua , bagaimana anak akan mendengarkan guru di sekolah jika di rumah saja sudah tidak bisa diatur, tidak ada disiplin dan semaunya sendiri...

8. Keterlambatan Terapi
Orangtua menganggap anaknya normal-normal saja dan tidak mau mendengar keluhan guru tentang anaknya. Merasa malu jika anaknya harus diterapi padahal hal itu sangat dibutuhkan oleh si anak.

sumber : By Josua Manurung
- Posted on Juni 3rd, 2008

MENGATASI PERILAKU ANAK AUTIS (pendahuluan)

Pendahuluan

Pembaca mungkin tidak asing lagi dengan gangguan Autis, itu karena akhir-akhir ini gangguan pada anak yang dicirikan dengan ketidak mampuan dalam interaksi sosial, perilaku yang mal adapatif, tidak adanya kemampuan dalam berbahasa verbal dan non-verbal, ketertinggalan dalam perkembangan kemampuan motorik kasar dan motorik halus, serta ditandai dengan ketidak mampuan dalam kontrol bina diri ini sedang banyak dibicarakan dimana-mana, mulai di Televisi, koran, dan….tentu saja di blog kesayanganku ini.

Baiklah para pembaca yang budiman, kali ini saya ingin berbagi dengan anda dalam menangani perilaku-perilaku mal adaptif pada anak Autis, seperti teriak-teriak tanpa sebab (bagi orang yang melihat), agresif, tantrum (menyakiti diri sendiri), tertawa tanpa sebab, mengompol, dan perilaku-perilaku serupa lainnya.

Seperti telah saya jelaskan diatas, salah satu gangguan pada anak autis adalah ketidak mampuan mereka dalam berbahasa verbal dan non-verbal. Ketidak mampuan anak autis dalam berbahasa inilah yang menyebabkan anda dan kebanyakan orang yang terlibat dalam pendidikan anak autis, selalu mengatakan “Dia (si autis) tak bisa bicara, jadi dia tak dapat berkomunikasi” . Perkataan seperti ini tentu tidak sepenuhnya benar, kenapa demikian, bukankah semua tingkah laku anak adalah suatu bentuk komunikasi. Tomi (autis) selalu menutup telinga saat mendengar suara bising, Tomi selalu teriak jika dibawa ke kamar mandi, Tomi selalu meronta jika dipeluk. Ini semua adalah cara Tomi untuk mengatakan pada orang lain tentang hal-hal yang tidak dia sukai.

Mungkin anda belum sepenuhnya setuju dengan pendapat saya di atas ?. Baik, saya akan coba jelaskan kembali. Kebanyakan orang mengatakan anak autis sering melakukan perilaku-perilaku mal adaptif tanpa ada sebab, perkataan seperti ini tentu juga tidak sepenuhnya benar. Pada dasarnya semua perilaku anak autis tidak ada yang tanpa sebab. Semua dilakukan karena sebuah sebab yang jelas, hanya saja anda, dan sebagian besar dari mereka yang bergelut dibidang autis kurang dapat memahami penyebab dari kemunculan perilaku tersebut. Sebagai contoh, Ibu Tomi selalu bilang kalau anaknya selalu tertawa dan teriak tanpa sebab. Sebenarnya bukan tanpa sebab, hanya Ibu Tomi belum dapat menemukan sebab dari kemunculan perilaku tertawa dan teriak tersebut.

Nah, anggapan anda dan sebagian orang bahwa anak autis itu tidak bisa berkomunikasi, bahwa anak autis itu selalu tertawa dan teriak tanpa sebab…dan pernyataan-pernyataan negatif lainnya inilah yang pada akhirnya mendorong anda dan sebagian besar dari mereka yang bergelut dibidang pendidikan anak autis, kerap menggunakan pendekatan yang kurang humanis atau tidak berpusat pada anak dalam menangani perilaku-perilaku mal adaptif pada anak autis. Sebagai contoh, saya sering menjumpai seorang terapis yang hanya menggunakan kata “tidak” untuk menangani perilaku agresi pada anak autis, tanpa berusaha memahami sumber permasalahannya (kapan anak berperilaku agresif, pada situasi seperti apa anak berperilaku agresif dan seterusnya). Bahkan dibeberapa tempat masih ada terapis yang menggunakan kekerasan fisik dalam mendidik anak autis. Saya pernah menjumpai seorang Ibu yang selalu mengikat anak autisnya dengan rantai, supaya tidak berperilaku agresif, ini sungguh sangat memprihatinkan.

Author: SUHADIANTO | Posted at: 18:42 | Filed Under: Autis |

MENGATASI PERILAKU ANAK AUTIS

Lalu Cara Apa yang Mesti Digunakan?

Sebenarnya cara ini sudah sering anda praktekkan pada anak non-autis. Lalu kenapa anda tidak pernah tau bahwa cara tersebut juga dapat diterapkan pada anak autis ?, karena selama ini anda terlalu negatif thinking pada anak autis, dengan mengatakan anak autis tidak bisa berkomunikasi dan berperilaku tanpa sebab. Pada saat anak anda, adik anda, atau sepupu anda yang masih kecil menangis pasti anda akan menanyakan apa yang menyebabkan dia menangis, dan setelah mendapatkan jawabannya anda akan berusaha menghilangkan penyebab tersebut, dan kemudian anda akan melihat adik anda tersenyum kembali. Anak autis juga demikian, dia juga akan berhenti dari perilaku agresifnya, jika anda menghilangkan penyebab dari perilaku tersebut. Tentu saja untuk menemukan penyebab kemunculan perilaku pada anak non-autis jauh lebih mudah jika dibandingkan pada anak autis.

Ada beberapa pertanyaan yang harus kita jawab untuk tujuan mengidentifikasi penyebab munculnya perilaku mal adaptif pada anak autis:
1.Apa masalahnya?
2.Situasi dan tempat munculnya perilaku.
3.Pemicu dan waktu, Kapan ini terjadi ?.
4.Buta pikiran.
5.Memahami inti situasi.
6.Imajinasi.
7.Ketertarikan dan pengalaman sensori.
8.Interaksi sosial.
9.Komunikasi.
10.Emosi.

Author: SUHADIANTO | Posted at: 18:42 | Filed Under: Autis

Penanganan Autis

Penanganan Autis

Penanganan perilaku, pendidikan dan medikasi terbukti dapat meningkatkan kemampuan belajar dan berperilaku anak penyandang ASD, bahkan memungkinkan beberapa anak penyandang ASD untuk berfungsi mendekati normal, belum ada obat yang dapat ‘menyembuhkan’ gangguan ini. Penanganan pada anak penyandang ASD diarahkan untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki anak serta menolong anak dan keluarga untuk mengatasi dan hidup dengan gangguan ini secara lebih efektif.

Penanganan yang diberikan, disesuaikan dengan gejala yang diperlihatkan oleh penyandang ASD. Anak penyandang ASD yang memiliki inteligensi rata-rata, mampu berkomunikasi dan tidak memiliki perilaku repetitif atau melukai diri sendiri maupun orang lain akan berbeda fokus penanganannya dengan anak penyandang ASD yang memiliki mental retardasi, tidak berbicara, serta memiliki perilaku melukai diri sendiri maupun orang lain.

Anak penyandang ASD yang memiliki mental retardasi akan membutuhkan pengawasan dan bantuan untuk menjalani rutinitas sehari-hari seumur hidupnya. Strategi penanganan untuk anak-anak ini biasanya menekankan pada menghilangkan perilaku yang berbahaya, melukai diri sendiri maupun orang lain. Mendorong keterampilan bantu diri (misalnya membersihkan diri setelah buang air kecil/besar atau cara menggunakan kamar mandi, mandi/merawat tubuh/berpakaian, makan dan minum sendiri), kepatuhan pada peraturan atau permintaan sederhana, munculnya perilaku emosional dan sosial yang sederhana, mengkomunikasikan/mengutarakan kebutuhannya, bermain.

Seiring dengan anak bertambah dewasa, penanganan berfokus pada pengajaran mengenai keterampilan domestik (rumah tangga) atau yang berhubungan dengan pekerjaan sederhana untuk menyiapkan mereka hidup sendiri dengan pengawasan. Dalam menghadapi orangtua dari anak penyandang ASD yang low-functioning ini, kita mesti berhati-hati untuk tidak mendorong pengharapan yang berlebihan akan ada kemajuan yang pesat dari anak dan tidak juga mendorong pesimisme yang berlebihan. Yang penting menghargai setiap kemajuan anak, betapapun perlahan-lahannya, serta menikmati hidup bersama anak yang memiliki keunikan ini.

Untuk penyandang ASD ringan, hasil penanganan bisa sangat bervariasi, bergantung pada anaknya sendiri, orangtua, kualitas dari penanganan dan pendidikan dini, serta kesempatan-kesempatan yang ada di kemudian hari.

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/iptek/kesehatan/2004/1217/kes4.html

Autistic Spectrum Disorder (ASD).

Dalam beberapa tahun terakhir, makin banyak terungkap fenomena anak autis. Autisme adalah gangguan perkembangan yang disebabkan oleh adanya interferensi pada perkembangan otak pada masa prenatal atau selama satu atau dua tahun awal kehidupan anak. Autisme merupakan manifestasi perilaku yang timbul dari disfungsi yang terjadi pada maturasi neurobiologis dan fungsi sistem saraf pusat.
Gangguan perkembangan ini menyebabkan kekurangan pada tiga area yaitu area interaksi sosial, area komunikasi serta area perilaku. Keterlambatan atau fungsi abnormal pada salah satu dari ketiga area tersebut muncul sebelum usia tiga tahun. Kekurangan pada area interaksi sosial ini merupakan hal yang amat menjadi keluhan orang tua dan merupakan ciri utama yang menyadarkan orang tua untuk curiga mengenai kemungkinan adanya gangguan pada anaknya.

Perincian gangguan pada interaksi sosial di antaranya:

•Adanya kerusakan yang nyata pada penggunaan perilaku nonverbal, terutama pada imajinasi, komunikasi dan sosialisasi.

•Kegagalan membentuk hubungan dengan peer.

Untuk itu intervensi perilaku dan pendidikan yang terus-menerus sangat berguna dan menjadi inti dari perawatan yang dilakukan terhadap penyandang autisme.
Autisme disebut juga sebagai gangguan ‘spektrum’ yang artinya bahwa gejala dan karakteristiknya ditampilkan dalam kombinasi dan tingkat keparahan yang berbeda-beda. Pada ujung spektrum, kita dapat menemukan seorang anak penyandang autisme yang tidak berbicara, duduk di sudut ruangan, memutar-mutar penjepit kertas berulang-ulang selama berjam-jam, di ujung lain dari spektrum, kita menemukan seorang penyandang autisme yang bekerja sebagai peneliti di universitas, selama pekerjaan itu tidak mensyaratkannya untuk berinteraksi dengan orang-orang.

Orang yang memiliki kesulitan dalam area komunikasi nonverbal (termasuk di dalamnya keinginan dan kemampuan menggunakan bahasa dalam konteks sosial) dikategorikan memiliki Autistic Spectrum Disorder (ASD).

Kasih Sayang, Kunci Menangani Anak Autis

Kasih Sayang, Kunci Menangani Anak Autis

Jakarta, Kompas - Kasih sayang serta kesabaran ekstra merupakan pendekatan yang kerap terabaikan dalam pendidikan anak autis di sejumlah klinik terapi. Karena upaya membentuk perilaku positif terhadap mereka tanpa sadar cenderung bernuansa kekerasan, maka anak menjadi trauma, takut mengikuti terapi, atau orangtuanya yang tidak terima."Bahkan, terkesan pembentukan perilaku pada anak autis seperti mendidik perilaku hewan. Misalnya, menyuruh duduk dengan mata melotot, bentakan, teriakan.

Kalau tidak menurut disentil, dijewer, dan tindakan kekerasan lain," ungkap psikolog anak Dra Psi Hamidah MSi dalam seminar "Pendidikan Anak Autis dengan Pendekatan Humanistik" yang digelar Perhimpunan Autisme Indonesia pada Kongres Nasional Autisme Indonesia I di Jakarta, Sabtu (3/5).

Autisme merupakan gangguan perkembangan neurobiologis yang berat atau luas, dan dapat terjadi pada anak dalam tiga tahun pertama kehidupannya. Penyandang autis memiliki gangguan berkomunikasi, interaksi sosial, serta aktivitas dan minat yang terbatas serta berulang-ulang (repetitif). Gejalanya misalnya, anak tidak bisa bicara atau terlambat bicara, bicara dengan bahasa yang tidak dimengerti, tidak mau kontak mata, tidak mau bermain dengan teman sebaya.

Ada juga yang gemar melakukan aktivitas berulang-ulang tanpa mau diubah, terpukau pada bagian-bagian benda, seperti senang melihat benda berputar, jalan berjinjit, menatapi telapak tangan, serta berputar-putar. Hal tersebut membuat anak autis seperti hidup pada dunianya sendiri.Metode yang sering diterapkan untuk membentuk perilaku positif pada anak autis, yaitu Applied Behavior Analysis (ABA) atau metode bivavioristik yang dikenalkan Prof Dr Lovaas di Amerika Serikat. Metode bertujuan membentuk atau menguatkan perilaku positif anak autis dan mereduksi perilaku negatifnya. Namun, pada pelaksanaannya tidak jarang terapis menerapkannya dengan cara-cara yang relatif keras."Memang benar harus tegas dan konsisten. Tetapi juga harus telaten, sabar, dan penuh kasih sayang.

Prinsipnya mengajarkan dengan perasaan. Metode ABA sebenarnya tidak keras seperti itu. Dengan pendekatan lebih manusiawi, kita bisa membentuk perilaku positif pada anak autis," kata Hamidah.

Menurut dia, apa yang diajarkan terapis harus dilanjutkan orangtua di rumah. Tanpa peran orangtua itu bisa sia-sia. "Waktu di tempat terapi paling hanya empat jam. Sisanya ketelatenan dan kesabaran orangtua sangat amat penting demi kesembuhan dan perkembangan si anak," tegas Hamidah.
Namun, sejauh yang diketahuinya biaya terapi di berbagai klinik terapi di Indonesia masih relatif mahal sehingga hanya mampu menjangkau kalangan mampu.

Sumber : Kompas.com
www.dongengkakrico.com

memenjalin komunikasi dengan penyandang autisme

Dalam menjalin komunikasi dengan penyandang autisme, perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut.

1. Keteraturan melakukan suatu kegiatan berdasar tempat dan waktu yang sama setiap harinya.

2. Menghadirkan benda-benda sebagai alat komunikasi yang dapat dipahami: benda-benda tertentu sebagai penanda suatu kegiatan yang dilakukan.

3. Mengomunikasikan informasi mengenai “di mana” dan “kapan” dengan cara yang mereka mengerti sehingga kita membuat hidup mereka lebih bisa diduga (hanya masalah penyederhanaan sopan santun).

4. Mengusahakan kontak mata sesering mungkin dan memahami kebiasaan dan kebisaannya.

5. Melatih konsentrasi selama mungkin secara terus-menerus.

6. Mengajarkan kata sederhana untuk mengungkapkan suatu maksud secara berulang-ulang.

7. Tega, memaksa, dan tidak mudah terpengaruh oleh penolakan yang dilakukan saat diajak berkomunikasi.

8. Mendorong ekspresi dan penggunaan perasaan serta pendapat.

9. Menumbuhkan kemampuan berpikir logis.

10.Membiasakan bersosialisasi dengan masyarakat dan lingkungan.