1.2 Ciri-ciri Autisme
Anak-anak penyandang autisme memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
Perkembangan abnormal atau terganggu sebelum usia 3 tahun seperti yang ditunjukkan oleh keterlambatan atau fungsi yang abnormal pada paling sedikit satu dari bidang-bidang berikut.
1. Interaksi sosial, bahasa yang dipergunakan dalam perkembangan sosial.
2. Bahasa yang digunakan dalam komunikasi sosial.
3. Permainan simbolik atau imajinatif (Peeters, 2004:2).
Adapun ganggguan kualitatif dalam berkomunikasi menurut Peeters ditunjukkan oleh paling sedikit salah satu dari keadaan berikut.
1. Keterlambatan atau kekurangan secara menyeluruh dalam berbahasa lisan (tidak disertai usaha untuk mengimbanginya dengan penggunaan gesture atau mimik muka sebagai alternatif dalam berkomunikasi).
2. Ciri gangguan yang jelas pada kemampuan untuk memulai atau melanjutkan pembicaraan dengan orang lain meskipun dalam percakapan sederhana.
3. Penggunaan bahasa yang repetitive (diulang-ulang) atau stereotip (meniru-niru) atau bersifat idiosinktratik (aneh).
4. Kurang beragamnya spontanitas dalam permainan pura-pura atau meniru orang lain yang sesuai dengan tingkat perkembangannya (2004:1).
Selasa, 30 Maret 2010
Definisi Autisme
Definisi Autisme
Kondisi penyandang autisme kiranya sesuai dengan definisi autisme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesi (KBBI) Edisi Ketiga tahun 2003 yang menyatakan bahwa autisme adalah gangguan perkembangan pada anak yang berakibat tidak dapat berkomunikasi dan tidak dapat mengekspresikan perasaan dan keinginannya sehingga perilaku hubungan dengan orang lain terganggu (2003:77).
Definisi tersebut didukung dengan pendapat Peeters yang menyatakan bahwa autisme merupakan suatu gangguan perkembangan, gangguan pemahaman atau pervasif, dan bukan suatu bentuk penyakit mental (2004:14).
Karena mereka hanya mengalami gangguan perkembangan, kemampuan berbahasa bisa diterapkan dan dilatih. Karena autisme juga bukan penyakit mental, tentunya anak penyandang autisme tidak seharusnya dirawat di rumah sakit jiwa. Orang tualah pemegang kunci pertama pengenalan dini pada anak penyandang autisme agar tidak terjadi kesalahan penanganan yang dapat memperparah kondisi dan perkembangan jiwanya. Oleh karena itu, penting sekali penanganan dini bagi anak-anak autistik
(Hadriami, 2002:151-152).
Kondisi penyandang autisme kiranya sesuai dengan definisi autisme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesi (KBBI) Edisi Ketiga tahun 2003 yang menyatakan bahwa autisme adalah gangguan perkembangan pada anak yang berakibat tidak dapat berkomunikasi dan tidak dapat mengekspresikan perasaan dan keinginannya sehingga perilaku hubungan dengan orang lain terganggu (2003:77).
Definisi tersebut didukung dengan pendapat Peeters yang menyatakan bahwa autisme merupakan suatu gangguan perkembangan, gangguan pemahaman atau pervasif, dan bukan suatu bentuk penyakit mental (2004:14).
Karena mereka hanya mengalami gangguan perkembangan, kemampuan berbahasa bisa diterapkan dan dilatih. Karena autisme juga bukan penyakit mental, tentunya anak penyandang autisme tidak seharusnya dirawat di rumah sakit jiwa. Orang tualah pemegang kunci pertama pengenalan dini pada anak penyandang autisme agar tidak terjadi kesalahan penanganan yang dapat memperparah kondisi dan perkembangan jiwanya. Oleh karena itu, penting sekali penanganan dini bagi anak-anak autistik
(Hadriami, 2002:151-152).
Autisme dan Kesenyapan
1. Autisme dan Kesenyapan
Umumnya anak penyandang autisme cenderung pendiam. Manakala berada di tengah-tengah mereka, jangan berharap mendengar suara atau gurauan mereka. Senyap itulah yang didapatkan saat para penyandang autisme sedang berkumpul walau pada suasana santai sekalipun. Walau ada penyandang autisme yang cenderung suka berbicara, tetapi apabila didengarkan secara saksama, akan diketahui bahwa apa yang dibicarakan itu semacam “igauan” saja, bukan bahasa bermakna. Mereka hanya mampu mengulang-ulang kata yang didengarnya (membeo). Lebih-lebih mereka yang belum mendapat pendidikan dan latihan, mereka bisa diibaratkan sebagai anak-anak “aneh” yang sulit disentuh dengan bahasa. Kondisi ini sangat memrihatinkan mengingat bahasa adalah sarana komunikasi untuk menjalin interaksi sosial, tidak terkecuali bagi penyandang autisme.
Mereka pun membutuhkan bahasa untuk mengungkapkan rasa, cipta, dan karsanya.
Keterbatasan kemampuan berbahasa mengakibatkan mereka menjadi terasing dari orang-orang di sekitarnya dan lingkungannya. Keterasingan dan ketidakberdayaan mereka ini kadang memunculkan reaksi yang mungkin bagi orang di sekitarnya terasa tidak lazim. Hal ini disebabkan pengekspresian ketidaksesuaian respon yang diharapkan diwujudkan dalam bentuk ungkapan emosi seperti, menangis; marah; memukul-mukul; dan mondar-mandir.
Judul: Bahasa dan Autisme: Kekuatan Bahasa Menembus Kesenyapan
Pengarang: Sutarsih
Umumnya anak penyandang autisme cenderung pendiam. Manakala berada di tengah-tengah mereka, jangan berharap mendengar suara atau gurauan mereka. Senyap itulah yang didapatkan saat para penyandang autisme sedang berkumpul walau pada suasana santai sekalipun. Walau ada penyandang autisme yang cenderung suka berbicara, tetapi apabila didengarkan secara saksama, akan diketahui bahwa apa yang dibicarakan itu semacam “igauan” saja, bukan bahasa bermakna. Mereka hanya mampu mengulang-ulang kata yang didengarnya (membeo). Lebih-lebih mereka yang belum mendapat pendidikan dan latihan, mereka bisa diibaratkan sebagai anak-anak “aneh” yang sulit disentuh dengan bahasa. Kondisi ini sangat memrihatinkan mengingat bahasa adalah sarana komunikasi untuk menjalin interaksi sosial, tidak terkecuali bagi penyandang autisme.
Mereka pun membutuhkan bahasa untuk mengungkapkan rasa, cipta, dan karsanya.
Keterbatasan kemampuan berbahasa mengakibatkan mereka menjadi terasing dari orang-orang di sekitarnya dan lingkungannya. Keterasingan dan ketidakberdayaan mereka ini kadang memunculkan reaksi yang mungkin bagi orang di sekitarnya terasa tidak lazim. Hal ini disebabkan pengekspresian ketidaksesuaian respon yang diharapkan diwujudkan dalam bentuk ungkapan emosi seperti, menangis; marah; memukul-mukul; dan mondar-mandir.
Judul: Bahasa dan Autisme: Kekuatan Bahasa Menembus Kesenyapan
Pengarang: Sutarsih
DEFINISI AUTISME
DEFINISI AUTISME
Autisme adalah gangguan perkembangan kompleks yang mempengaruhi perkembangan otak normal dan kemampuan berkomunikasi. rangkaian umum dalam autisme termasuk gangguan interaksi sosial, gangguan komunikasi baik verbal maupun non-verbal, gangguan proses informasi dari panca indera, dan pola tingkah laku yang terbatas ataupun berulang-ulang.
Individu dengan autisme – bentuk inti dari Autism Spectrum Disorder (ASD) – seringkali memiliki tampilan yang tidak berbeda dan terpengaruh serta tidak dapat membentuk batasan emosional dengan yang lain. semisal, mereka seringkali mempunyai respon yang tidak biasa untuk semua pengalaman sensorik. tiap-tiap simptom menhadirkan perasaan dari yang lembut sampai yang keras. mereka akan terlihat berbeda pada tiap individu anak. singkatnya, seorang anak dapat saja mengalami kesulitan belajar membaca akan tetapi lebih terlihat bahwa dia sangat jarang sekali melakukan interaksi sosial. tiap anak akan memperlihatkan tingkah laku, sosial, dan pola komunikasi yang sangat individualis akan tetapi cocok dengan diagnosis ASD.
Anak yang mengalami autisme tidak mengikuti pola perkembangan anak pada umumnya. pada beberapa anak, tanda permasalahan yang berlanjut telah tampak sejak lahir. anak lain mengalami perkembangan seperti biasa, akan tetapi ketika berumur 18 dan 36 bulan, perkembangan mereka terhenti. orang tua akan mengetahui kalau mereka mulai menolak kontak sosial, bertingkah aneh, dan bahkan kehilangan kemampuan berbahasa dan bersosial yang telah mereka pelajari. dengan kata lain, ada masa labil atau tingkat perkembangan, dan perbedaan antara anak kecil pada umumnya dan anak autis akan semakin diketahui.
Penelitian teranyar pada sebuah kota di Amerika 3.4 dari setiap 1000 anak yang berumur 3-10 tahun mengalami autisme.
Autisme ditemukan di setiap negara dan daerah di dunia dan dalam keluarga semua ras, etnik, agama, dan latar ekonomi. inilah yang menjadikannya sebuah kebutuhan untuk melihat lebih akurat gejala-gejala ASD. lebih awal gejala ini didiagonosa, lebih cepat si anak dapat tertolong melalui perawatan intervensi. Pediatrisi, psikolog keluarga, guru, perawat, dan orang tua yang dapat “menghilangkan” tanda ASD, serta secara optimis berpikir bahwa si anak hanyalah sedikit lambat dan dapat mengejarnya. walaupun intervensi lebih awal memiliki dampak yang luar biasa untuk mengurangi gejala dan meningkatkan kemampuan anak untuk berkembang dan belajar kemampuan baru, diperkirakan kurang dari 50% anak yang terdiagnosa sebelum masa kanak-kanak.
sumber : Artikel Definisi autisme ini diambil dari http://net-asia.net/Definisi autisme.html.
Autisme adalah gangguan perkembangan kompleks yang mempengaruhi perkembangan otak normal dan kemampuan berkomunikasi. rangkaian umum dalam autisme termasuk gangguan interaksi sosial, gangguan komunikasi baik verbal maupun non-verbal, gangguan proses informasi dari panca indera, dan pola tingkah laku yang terbatas ataupun berulang-ulang.
Individu dengan autisme – bentuk inti dari Autism Spectrum Disorder (ASD) – seringkali memiliki tampilan yang tidak berbeda dan terpengaruh serta tidak dapat membentuk batasan emosional dengan yang lain. semisal, mereka seringkali mempunyai respon yang tidak biasa untuk semua pengalaman sensorik. tiap-tiap simptom menhadirkan perasaan dari yang lembut sampai yang keras. mereka akan terlihat berbeda pada tiap individu anak. singkatnya, seorang anak dapat saja mengalami kesulitan belajar membaca akan tetapi lebih terlihat bahwa dia sangat jarang sekali melakukan interaksi sosial. tiap anak akan memperlihatkan tingkah laku, sosial, dan pola komunikasi yang sangat individualis akan tetapi cocok dengan diagnosis ASD.
Anak yang mengalami autisme tidak mengikuti pola perkembangan anak pada umumnya. pada beberapa anak, tanda permasalahan yang berlanjut telah tampak sejak lahir. anak lain mengalami perkembangan seperti biasa, akan tetapi ketika berumur 18 dan 36 bulan, perkembangan mereka terhenti. orang tua akan mengetahui kalau mereka mulai menolak kontak sosial, bertingkah aneh, dan bahkan kehilangan kemampuan berbahasa dan bersosial yang telah mereka pelajari. dengan kata lain, ada masa labil atau tingkat perkembangan, dan perbedaan antara anak kecil pada umumnya dan anak autis akan semakin diketahui.
Penelitian teranyar pada sebuah kota di Amerika 3.4 dari setiap 1000 anak yang berumur 3-10 tahun mengalami autisme.
Autisme ditemukan di setiap negara dan daerah di dunia dan dalam keluarga semua ras, etnik, agama, dan latar ekonomi. inilah yang menjadikannya sebuah kebutuhan untuk melihat lebih akurat gejala-gejala ASD. lebih awal gejala ini didiagonosa, lebih cepat si anak dapat tertolong melalui perawatan intervensi. Pediatrisi, psikolog keluarga, guru, perawat, dan orang tua yang dapat “menghilangkan” tanda ASD, serta secara optimis berpikir bahwa si anak hanyalah sedikit lambat dan dapat mengejarnya. walaupun intervensi lebih awal memiliki dampak yang luar biasa untuk mengurangi gejala dan meningkatkan kemampuan anak untuk berkembang dan belajar kemampuan baru, diperkirakan kurang dari 50% anak yang terdiagnosa sebelum masa kanak-kanak.
sumber : Artikel Definisi autisme ini diambil dari http://net-asia.net/Definisi autisme.html.
CIRI-CIRI ANAK AUTIS
CIRI-CIRI ANAK AUTIS
Autis bisa kelihatan dari anak berumur 6 bulan. Tanda2 awal, adalah saat kita panggil dia tidak sama sekali merespon, tidak ada tanggapan. Pokoknya kalau sudah begitu kita harus sedkit waspada untuk segera konsultasi ke DSA.
Autisme adalah suatu gangguan perkembangan yang kompleks, yang biasanya muncul pada usia 1-3 tahun.
Tanda-tanda autisme biasanya muncul pada tahun pertama dan selalu sebelum anak berusia 3 tahun.
Autisme 2-4 kali lebih sering ditemukan pada anak laki2
Sifat-sifat yang biasa ditemukan pada anak autis:
# Sulit bergabung dengan anak-anak yang lain
# Tertawa atau cekikikan tidak pada tempatnya
# Menghindari kontak mata atau hanya sedikit melakukan kontak mata
# Menunjukkan ketidakpekaan terhadap nyeri
# Lebih senang menyendiri, menarik diri dari pergaulan, tidak membentuk hubungan pribadi yang terbuka
# Jarang memainkan permainan khayalan
# Memutar benda
# Terpaku pada benda tertentu, sangat tergantung kepada benda yang sudah dikenalnya dengan baik
# Secara fisik terlalu aktif atau sama sekali kurang aktif
# Tidak memberikan respon terhadap cara pengajaran yang normal
# Tertarik pada hal-hal yang serupa, tidak mau menerima/mengalami perubahan
# Tidak takut akan bahaya
# Terpaku pada permainan yang ganjil
# Ekolalia (mengulang kata-kata atau suku kata)
# Tidak mau dipeluk
# Tidak memberikan respon terhadap kata-kata, bersikap seolah-olah tuli
# Mengalami kesulitan dalam mengungkapkan kebutuhannya melalui kata-kata, lebih senang
meminta melalui isyarat tangan atau menunjuk
# Jengkel/kesal membabi buta, tampak sangat rusuh untuk alasan yang tidak jelas
# Melakukan gerakan dan ritual tertentu secara berulang (misalnya bergoyang-goyang atau mengepak-ngepakkan lengannya)
# Anak autis mengalami keterlambatan berbicara, mungkin menggunakan bahasa dengan cara yang aneh atau tidak mampu bahkan tidak mau berbicara sama sekali. Jika seseorang berbicara dengannya, dia akan sulit memahami apa yang dikatakan kepadanya. Anak autis tidak mau menggunakan kata ganti yang normal (terutama menyebut dirinya sebagai kamu, bukan sebagai saya).
# Pada beberapa kasus mungkin ditemukan perilaku agresif atau melukai diri sendiri.
# Kemampuan motorik kasar/halusnya ganjil (tidak ingin menendang bola tetapi dapat menyusun balok).
Gejala-gejala tersebut bervariasi, bisa ringan maupun berat. Selain itu, perilaku anak autis biasanya berlawanan dengan berbagai keadaan yang terjadi dan tidak sesuai dengan usianya.
Autis bisa kelihatan dari anak berumur 6 bulan. Tanda2 awal, adalah saat kita panggil dia tidak sama sekali merespon, tidak ada tanggapan. Pokoknya kalau sudah begitu kita harus sedkit waspada untuk segera konsultasi ke DSA.
Autisme adalah suatu gangguan perkembangan yang kompleks, yang biasanya muncul pada usia 1-3 tahun.
Tanda-tanda autisme biasanya muncul pada tahun pertama dan selalu sebelum anak berusia 3 tahun.
Autisme 2-4 kali lebih sering ditemukan pada anak laki2
Sifat-sifat yang biasa ditemukan pada anak autis:
# Sulit bergabung dengan anak-anak yang lain
# Tertawa atau cekikikan tidak pada tempatnya
# Menghindari kontak mata atau hanya sedikit melakukan kontak mata
# Menunjukkan ketidakpekaan terhadap nyeri
# Lebih senang menyendiri, menarik diri dari pergaulan, tidak membentuk hubungan pribadi yang terbuka
# Jarang memainkan permainan khayalan
# Memutar benda
# Terpaku pada benda tertentu, sangat tergantung kepada benda yang sudah dikenalnya dengan baik
# Secara fisik terlalu aktif atau sama sekali kurang aktif
# Tidak memberikan respon terhadap cara pengajaran yang normal
# Tertarik pada hal-hal yang serupa, tidak mau menerima/mengalami perubahan
# Tidak takut akan bahaya
# Terpaku pada permainan yang ganjil
# Ekolalia (mengulang kata-kata atau suku kata)
# Tidak mau dipeluk
# Tidak memberikan respon terhadap kata-kata, bersikap seolah-olah tuli
# Mengalami kesulitan dalam mengungkapkan kebutuhannya melalui kata-kata, lebih senang
meminta melalui isyarat tangan atau menunjuk
# Jengkel/kesal membabi buta, tampak sangat rusuh untuk alasan yang tidak jelas
# Melakukan gerakan dan ritual tertentu secara berulang (misalnya bergoyang-goyang atau mengepak-ngepakkan lengannya)
# Anak autis mengalami keterlambatan berbicara, mungkin menggunakan bahasa dengan cara yang aneh atau tidak mampu bahkan tidak mau berbicara sama sekali. Jika seseorang berbicara dengannya, dia akan sulit memahami apa yang dikatakan kepadanya. Anak autis tidak mau menggunakan kata ganti yang normal (terutama menyebut dirinya sebagai kamu, bukan sebagai saya).
# Pada beberapa kasus mungkin ditemukan perilaku agresif atau melukai diri sendiri.
# Kemampuan motorik kasar/halusnya ganjil (tidak ingin menendang bola tetapi dapat menyusun balok).
Gejala-gejala tersebut bervariasi, bisa ringan maupun berat. Selain itu, perilaku anak autis biasanya berlawanan dengan berbagai keadaan yang terjadi dan tidak sesuai dengan usianya.
Terapi lumba-lumba bagi anak autis
Terapi lumba-lumba
Bila si kecil penderita autis sudah hobi berenang, mungkin Anda bisa mengajaknya untuk melakukan terapi lumba-lumba. Sebuah terapi yang disinyalir sangat bermanfaat untuk si autis. Selama berabad-abad, dolphin dikenal sebagai mahluk yang cerdas dan baik hati. Cerita mengenai kepahlawanan mereka menolong perenang-perenang yang kecapaian sudah ada sejak zaman dahulu.
Para dokter saat ini mencoba memakai dolphin untuk terapi bagi anak dengan kebutuhan khusus. Anak-anak ini suka berada dalam air yang hangat, menyentuh tubuh dolphin dan mendengar suara-suara yang dikeluarkan oleh dolphin-dolphin tersebut. Dalam 2 dekade terakhir ini beberapa terapis dan psikolog berpendapat bahwa berenang dengan dolphin mempunyai kekuatan untuk menyembuhkan. Beberapa orang bahkan percaya bahwa getaran dolphin dapat menyembuhkan sel manusia.
Para dokter di Dolphin-Human Therapy Center percaya bahwa mahluk yang sangat cerdas ini dapat membantu anak-anak dengan berbagai gangguan saraf, bahkan anak dengan sindroma down dan autisme. Getaran sonar dolphin yang unik dapat mengindentifikasi gangguan saraf pada manusia, lalu menenangkannya sehingga lebih mudah bisa menerima pelajaran dan penyembuhan. Namun banyak pula para ilmuwan yang berpendapat bahwa anak-anak hanya menyukai bersentuhan dengan dolphin, dan berenang dengan dolphin hanya merupakan suatu rekreasi saja.
Sebuah penelitian dilakukan di Dolphin-Human Therapy Center di Key Largo, Florida. David Cole, seorang ilmuwan dalam bidang neurology menciptakan alat khusus untuk mengukur effek dari dolphin pada otak manusia. Cole mendapatkan bahwa ada suatu perubahan bila manusia berinteraksi dengan dolphin. Setelah berinteraksi dengan dolphin didapatkan bahwa anak-anak tersebut menjadi lebih tenang. Banyak peneliti berpendapat bahwa relaksasi inilah yang merupakan penyebab keberhasilan terapi lumba-lumba. Menurut beberapa peneliti, relaksasi merangsang sistem kekebalan tubuh.
Kamis, 29 Oktober 2009 - 11:49 wib
Okezone.com
Bila si kecil penderita autis sudah hobi berenang, mungkin Anda bisa mengajaknya untuk melakukan terapi lumba-lumba. Sebuah terapi yang disinyalir sangat bermanfaat untuk si autis. Selama berabad-abad, dolphin dikenal sebagai mahluk yang cerdas dan baik hati. Cerita mengenai kepahlawanan mereka menolong perenang-perenang yang kecapaian sudah ada sejak zaman dahulu.
Para dokter saat ini mencoba memakai dolphin untuk terapi bagi anak dengan kebutuhan khusus. Anak-anak ini suka berada dalam air yang hangat, menyentuh tubuh dolphin dan mendengar suara-suara yang dikeluarkan oleh dolphin-dolphin tersebut. Dalam 2 dekade terakhir ini beberapa terapis dan psikolog berpendapat bahwa berenang dengan dolphin mempunyai kekuatan untuk menyembuhkan. Beberapa orang bahkan percaya bahwa getaran dolphin dapat menyembuhkan sel manusia.
Para dokter di Dolphin-Human Therapy Center percaya bahwa mahluk yang sangat cerdas ini dapat membantu anak-anak dengan berbagai gangguan saraf, bahkan anak dengan sindroma down dan autisme. Getaran sonar dolphin yang unik dapat mengindentifikasi gangguan saraf pada manusia, lalu menenangkannya sehingga lebih mudah bisa menerima pelajaran dan penyembuhan. Namun banyak pula para ilmuwan yang berpendapat bahwa anak-anak hanya menyukai bersentuhan dengan dolphin, dan berenang dengan dolphin hanya merupakan suatu rekreasi saja.
Sebuah penelitian dilakukan di Dolphin-Human Therapy Center di Key Largo, Florida. David Cole, seorang ilmuwan dalam bidang neurology menciptakan alat khusus untuk mengukur effek dari dolphin pada otak manusia. Cole mendapatkan bahwa ada suatu perubahan bila manusia berinteraksi dengan dolphin. Setelah berinteraksi dengan dolphin didapatkan bahwa anak-anak tersebut menjadi lebih tenang. Banyak peneliti berpendapat bahwa relaksasi inilah yang merupakan penyebab keberhasilan terapi lumba-lumba. Menurut beberapa peneliti, relaksasi merangsang sistem kekebalan tubuh.
Kamis, 29 Oktober 2009 - 11:49 wib
Okezone.com
Ajari Anak Autis Berenang
Ajari Anak Autis Berenang
Bagi anak autis, berenang adalah olahraga yang bagus. Olahraga ini bisa melatih tanggung jawab dan keberanian pada anak.
TIDAK mudah mengajarkan sesuatu pada anak-anak yang memiliki kelainan mental atau autis. Seperti renang misalnya. Karena olahraga iniakan memberi stimulus otak yang bagus. Bukan hanya anak normal yang bisa mendapatkan kesenangan. Seperti bermain dan berenang. Anak autis pun bisa melakukannya. Dengan ketelatenan orang tua, anak bisa berkembang dengan baik, termasuk bisa berenang di kolam renang umum atau water boom.
Banyak alasan yang baik untuk membawa anak-anak berenang sedini mungkin. Makin muda mereka makin mudah untuk belajar berenang. Berenang merupakan olahraga all round yang baik sekali. Membantu mengembangkan pengendalian pernapasan dan dapat sangat menyantaikan. Berenang merupakan sesuatu kegiatan yang dapat bersama-sama dinikmati oleh keluarga dan sering merupakan cara yang baik untuk mempertemukan anak dengan orang tua.
Umumnya anak kecil berhasil paling baik jika diperkenalkan ke air oleh ibu atau bapaknya. Jika kita sendiri merasa cemas terhadap air, cobalah pergi bersama seorang dewasa yang lebih percaya diri. Pergilah ke kolam renang anak-anak yang dangkal. Sasaran umumnya adalah membuat anak menikmati berada di dalam air dan bergerak bebas mundur, maju, dan ke samping, tengadah, telungkup, kalau mungkin dengan pelampung.
Jagalah agar tiap kegiatan berjalan singkat. Anak akan belajar lebih banyak dalam kunjungan singkat tetapi sering daripada kunjungan yang lama tetapi hanya kadang-kadang. Hal yang perlu dilakukan untuk mengembangkan percaya diri terhadap air pada anak-anak dengan keterbelakangan mental ini adalah, pada kunjungan pertama, ajaklah anak untuk berjalan-jalan tanpa benar-benar berenang.
"Ini akan memberinya peluang untuk anak agar menyaksikan apa yang akan terjadi dan membiasakan diri dengan suasana, kebisingan dan tempat yang baru. Itu akan membuat anak-anak merasanya punya kesempatan untuk beradaptasi." kata Psikolog Anak alumni Universitar Indonesia (UI), Dr Savitri Yulia, dihubungi beberapa waktu lalu.
Tidak sampai di situ saja, Yulia juga menyarankan anak-anak melihat kamar ganti, loker dan membahas apa yang akan dilakukan pada kunjungan berikutnya. Jika waktu kunjungan berikutnya hal-hal yang harus dilakukan di dalam air menurut Yulia adalah, pegang anak dekat-dekat dan naik turunkan anak dengan lembut ke dalam air. Secara bertahap dan perlahan, hingga kakinya basah. Perkenalkan anak di kolam dangkal terlebih dulu agar anak bisa duduk, merangkak atau sekedar berjalan maju mundur hingga bahunya basah.
Nantinya sesampai di kolam sedalam satu meter atau lebih, usahakan agar wajah orang tua dan wajah anak sama tinggi. "Pegangi tubuhnya di ketiaknya. Perlahan basahi kepalanya dan wajahnya. Lalu alihkan ke bawah dada dan pinggulnya, posisi anak tetap telungkup. Ini akan mampu membantu menenangkan anak," katanya.
Jika terasa anak sudah mulai tenang, usahakan agar tangan dan kakinya bisa bergerak di dalam air dengan menendang kaki dan mengayuhkan lengan. Lihat terus, apakah anak menikmatinya. Kalau bisa teruskan dengan memberinya semangat untuk menghembuskan air perlahan-lahan ketika menenggelamkan wajahnya dalam air. Kalau perlu dan memungkinkan, pakailah ban pelampung berbentuk lingkaran atau gelang lengan untuk keamanan. Kadangkala membawa mainan seperti bola atau perahu-perahuan akan membantu anak lebih tenang.
"Tenangkan anak jika mereka merasa panik, atau segera keluar dari kolam jika anak mulai gelisah dan berteriak. Tenangkan mereka dan cobalah kembali proses mengenalkan kolam pada anak," kata psikolog berjilbab tersebut.
Kamis, 29 Oktober 2009 - 11:49 wib
Okezone.com
Bagi anak autis, berenang adalah olahraga yang bagus. Olahraga ini bisa melatih tanggung jawab dan keberanian pada anak.
TIDAK mudah mengajarkan sesuatu pada anak-anak yang memiliki kelainan mental atau autis. Seperti renang misalnya. Karena olahraga iniakan memberi stimulus otak yang bagus. Bukan hanya anak normal yang bisa mendapatkan kesenangan. Seperti bermain dan berenang. Anak autis pun bisa melakukannya. Dengan ketelatenan orang tua, anak bisa berkembang dengan baik, termasuk bisa berenang di kolam renang umum atau water boom.
Banyak alasan yang baik untuk membawa anak-anak berenang sedini mungkin. Makin muda mereka makin mudah untuk belajar berenang. Berenang merupakan olahraga all round yang baik sekali. Membantu mengembangkan pengendalian pernapasan dan dapat sangat menyantaikan. Berenang merupakan sesuatu kegiatan yang dapat bersama-sama dinikmati oleh keluarga dan sering merupakan cara yang baik untuk mempertemukan anak dengan orang tua.
Umumnya anak kecil berhasil paling baik jika diperkenalkan ke air oleh ibu atau bapaknya. Jika kita sendiri merasa cemas terhadap air, cobalah pergi bersama seorang dewasa yang lebih percaya diri. Pergilah ke kolam renang anak-anak yang dangkal. Sasaran umumnya adalah membuat anak menikmati berada di dalam air dan bergerak bebas mundur, maju, dan ke samping, tengadah, telungkup, kalau mungkin dengan pelampung.
Jagalah agar tiap kegiatan berjalan singkat. Anak akan belajar lebih banyak dalam kunjungan singkat tetapi sering daripada kunjungan yang lama tetapi hanya kadang-kadang. Hal yang perlu dilakukan untuk mengembangkan percaya diri terhadap air pada anak-anak dengan keterbelakangan mental ini adalah, pada kunjungan pertama, ajaklah anak untuk berjalan-jalan tanpa benar-benar berenang.
"Ini akan memberinya peluang untuk anak agar menyaksikan apa yang akan terjadi dan membiasakan diri dengan suasana, kebisingan dan tempat yang baru. Itu akan membuat anak-anak merasanya punya kesempatan untuk beradaptasi." kata Psikolog Anak alumni Universitar Indonesia (UI), Dr Savitri Yulia, dihubungi beberapa waktu lalu.
Tidak sampai di situ saja, Yulia juga menyarankan anak-anak melihat kamar ganti, loker dan membahas apa yang akan dilakukan pada kunjungan berikutnya. Jika waktu kunjungan berikutnya hal-hal yang harus dilakukan di dalam air menurut Yulia adalah, pegang anak dekat-dekat dan naik turunkan anak dengan lembut ke dalam air. Secara bertahap dan perlahan, hingga kakinya basah. Perkenalkan anak di kolam dangkal terlebih dulu agar anak bisa duduk, merangkak atau sekedar berjalan maju mundur hingga bahunya basah.
Nantinya sesampai di kolam sedalam satu meter atau lebih, usahakan agar wajah orang tua dan wajah anak sama tinggi. "Pegangi tubuhnya di ketiaknya. Perlahan basahi kepalanya dan wajahnya. Lalu alihkan ke bawah dada dan pinggulnya, posisi anak tetap telungkup. Ini akan mampu membantu menenangkan anak," katanya.
Jika terasa anak sudah mulai tenang, usahakan agar tangan dan kakinya bisa bergerak di dalam air dengan menendang kaki dan mengayuhkan lengan. Lihat terus, apakah anak menikmatinya. Kalau bisa teruskan dengan memberinya semangat untuk menghembuskan air perlahan-lahan ketika menenggelamkan wajahnya dalam air. Kalau perlu dan memungkinkan, pakailah ban pelampung berbentuk lingkaran atau gelang lengan untuk keamanan. Kadangkala membawa mainan seperti bola atau perahu-perahuan akan membantu anak lebih tenang.
"Tenangkan anak jika mereka merasa panik, atau segera keluar dari kolam jika anak mulai gelisah dan berteriak. Tenangkan mereka dan cobalah kembali proses mengenalkan kolam pada anak," kata psikolog berjilbab tersebut.
Kamis, 29 Oktober 2009 - 11:49 wib
Okezone.com
Langganan:
Postingan (Atom)
